
Dunia Kerja Mengerikan? atau Cuma Kita yang Kebanyakan Mikir?
Maxwell Govokasi
Bagi mahasiswa tingkat akhir & lulusan baru, memasuki dunia kerja sering jadi fase menegangkan. Berbagai pertanyaan muncul: "Apakah mampu mengikuti ritme kerja?", "Bagaimana kalau salah?", "Apakah bisa adaptasi?". Kekhawatiran bikin sebagian orang menganggap dunia kerja menakutkan. Padahal, rasa cemas itu sering datang dari bayangan yang kita bangun sendiri, bukan dari pengalaman nyata [4].
Perasaan takut biasanya muncul karena kita belum tahu kondisi sebenarnya. Sebelum mulai kerja, informasi sering datang dari cerita orang lain atau medsos. Tidak sedikit unggahan yang memperlihatkan lembur larut, tekanan atasan, atau konflik kerja. Akibatnya muncul anggapan semua tempat kerja kondisinya sama. Padahal, setiap perusahaan punya budaya, sistem, dan cara pengelolaan karyawan berbeda. Ada yang memang tekanan tinggi, tapi banyak juga yang beri ruang karyawan berkembang & belajar [1].
Selain dari info luar, rasa takut juga sering muncul karena kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Saat lihat teman sudah dapat kerja, gaji bagus, atau lebih dulu capai karier yang diinginkan, kita tanpa sadar mulai mempertanyakan kemampuan sendiri. Pikiran "Aku belum siap" atau "Kemampuanku masih kurang" bikin percaya diri menurun. Padahal, setiap orang punya perjalanan berbeda — tidak semua harus mulai dari titik sama atau capai tujuan dalam waktu bersamaan [5].
"The greatest mistake we make is living in constant fear that we will make one."
Perlu dipahami: perusahaan tidak mengharapkan lulusan baru langsung menguasai seluruh pekerjaan. Justru sebagian besar menyadari karyawan baru masih dalam tahap belajar. Karena itu, banyak perusahaan menyediakan masa orientasi, pelatihan, hingga pendampingan. Yang lebih penting: kemauan belajar, kemampuan kerja sama tim, dan sikap bertanggung jawab [2].
Tidak dimungkiri: melakukan kesalahan adalah salah satu yang paling ditakuti saat mulai kerja. Kekhawatiran: satu kesalahan kecil berdampak besar ke karier. Padahal, kesalahan bagian dari proses belajar. Selama mau menerima masukan, memperbaiki kekurangan, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, pengalaman itu justru jadi bekal berkembang. Karyawan yang belajar dari pengalaman biasanya lebih cepat menyesuaikan diri dibanding yang selalu takut coba hal baru [6].
Persiapan sebelum masuk dunia kerja juga bisa mengurangi rasa cemas. Ikut organisasi, magang, pelatihan, sertifikasi, atau proyek sukarela bantu seseorang kenal suasana kerja sebelum benar-benar jadi karyawan. Pengalaman ini tidak cuma tambah kemampuan teknis, tapi juga melatih komunikasi, kerja sama, dan problem solving. Makin banyak pengalaman, makin besar rasa percaya diri [3].
Pada akhirnya, dunia kerja memang punya tantangan berbeda dari kuliah. Ada target, tanggung jawab lebih besar, dan tuntutan terus belajar. Tapi bukan berarti harus ditakuti. Sebagian besar rasa takut muncul karena terlalu memikirkan kemungkinan buruk yang bahkan belum tentu terjadi. Daripada terus membayangkan hal yang belum pasti, lebih baik gunakan waktu & energi untuk mempersiapkan diri. Saat kemampuan diasah dan pengalaman bertambah, rasa takut pelan-pelan berubah jadi rasa percaya diri. Jadi, mungkin dunia kerja memang tidak seseram yang dibayangkan — bisa jadi kita cuma terlalu banyak berpikir sebelum benar-benar mencoba.
Jangan biarkan rasa takut bikin kamu terus menunda. Mulailah mempersiapkan diri dengan belajar hal baru, menambah pengalaman, dan berani coba setiap kesempatan. Tidak perlu menunggu sampai merasa sempurna atau benar-benar siap — kemampuan akan terus berkembang seiring pengalaman. Setiap orang pernah jadi pemula. Langkah kecil hari ini bisa jadi awal menuju karier yang lebih baik.
📖 Sumber:
1. Bridgstock & Jackson, 2019
2. Jackson & Bridgstock, 2019
3. Kapareliotis et al., 2019
4. Lau et al., 2020
5. Prikshat et al., 2019
6. Ryan et al., 2019
Ditulis Oleh: Cindy Arifiyani, OJT Branding & Media, Mahasiswa Farmasi Universitas Wahid Hasyim
Ready to build competence that lasts?
Transform your potential into real competence with Maxwell x GOVOKASI.

